Anab Afifi

     Gagal Jadi Jurnalis, Sukses Menulis Buku Jurnalisme

cover
Ayat-Ayat yang Disembelih, itu judul buku berbasis jurnalistik pertamanya. Anab Afifi bersama dengan rekannya, Thowaf Zuharon, dan segenap bantuan kerja tim redaksi, berhasil menuntaskan sebuah buku bergenre jurnalisme sejarah dengan gaya penulisan sastrawi. Tahun ini, buku tersebut sudah mencapai cetakan ketiga.“Ini buku pertama saya. Buku yang sudahsaya rencanakan dan harus laku,”ujar founder BostonpriceAsia ini di kantornya, Rabu lalu.
Buku ini menceritakan tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika masih bercokol di Indonesia. Banjir Darah para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh aksi-aksi PKI, itulah deskripsi judul yang tertera di sampul bukunya. Minatnya di bidang sejarah dan sering nyaia mendengar cerita-cerita kekejaman PKI oleh kakek-neneknya, membuatnya terdorong untuk menuangkannya dalam bentuk buku. Judul Ayat-ayat yang Disembelih sendiri bukan merupakan arti yang sebenarnya, melainkan memiliki makna dan filosofinya sendiri.“Ayat itu dalam bahasa Arab artinya ‘tanda’. Jadi, ulama, kyai, polisi, yang menjadi ‘tanda’ NKRI itu disembelih oleh PKI ini. Yang benci buku ini cuma ada dua kemungkinan. Dia bagian dari aliran ini, yang menipu, membuat-buat fakta sejarah. Yang kedua, yang tertipu,” ujarnya menjelaskan.
Selain itu, kata Anab, buku ini juga telah menjadi referensi sejarah bagi yang ingin mengetahui seluk-beluk PKI saat masih memiliki pengaruh di Indonesia. Buku ini mengambil sudut pandang masyarakat yang menjadi saksi dan korban kekejaman dan kebengisan PKI. Buku jurnalisme sejarah ini, tercipta melalui telusuran wawancara lebih dari 30 narasumber yang terdiri dari korban, kerabat korban, dan sahabat para korban yang tersebar dari Jakarta hingga Surabaya, serta ditambah dengan kajian pustaka yang beragam.
Dibalik kompleksitasnya, proses pembuatan dan penyusunan buku AAYD relatif singkat.“Buku ini mulai direncanakan (rapat redaksi) sampai lansir hanya butuh dua bulan. Saya rencanakan akhir Agustus, riset bulan September dan lansir tanggal 10 November 2015,” ujarnya.Dengan adanya dua penulis, pembagian tugas kerja antar penulis juga menjadi faktor penting yang membuat buku ini dapat terselesaikan dengan cepat. “Saya yang keliling mencari fakta (wawancara). Teman saya (Thowaf Zuharon) yang menulis,” katanya. Menurut Anab, proses penulisan dapat dipercepat apabila sudah memiliki konsep dan gambaran besar apa yang akan ditulis. Ia juga menambahkan, seorang penulis harus memiliki mental penulis sejati, sehingga dapat konsisten dan memiliki komitmen ketika menulis.
Pria kelahiran Madiun, 5 Agustus 1968 ini sudah memiliki darah penulis sejak lahir. Ayahnya merupakan seorang jurnalis media cetak nasional. Dari situlah, Anab kecil kemudian bercita-cita menjadi jurnalis. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), gairahnya pada dunia tulis-menulis mulai tumbuh. Setelah melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mulai aktif menulis untuk majalah dinding (mading) sekolahnya. Selain itu, ia juga terbiasa menulis buku harian yang berisikan pemikiran-pemikirannya. “Dulu (SMA) menulis di buku harian, tidak menulis yang kegiatan sehari-hari saya yang sepele gitu, tapi sudah menulis pemikiran saya tentang pemerintahan,” ujar lulusan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta ini.
“Menjadi wartawan di media besar sekelas Jawa Pos, adalah impian saya di masa SMA,” ungkapnya melalui tulisannya di media sosial. Kala itu, menurut Anab, Jawa Pos merupakan satu-satunya media cetak di Indonesia yang mensyaratkan setiap jurnalisnya lulus sarjana dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN).Karena itu,setelah lulus SMA, Anab menargetkan dirinya lolos dijurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), mencontoh jurnalis andalan Jawa Posyang ia idolakan pada masa itu, Djoko Susilo.Tetapi, cita-citanya menjadi seorang jurnalis harus pupus karenagagalditerima di PTN. “Saya harus mengubur dalam-dalam impian itu, karena orang tua tidak mungkin membiayai kuliah di swasta. Saat itu, kegiatan saya cuma bantu ternak ayam orangtua,” kenangnya.
Lambat laun kesempatan kuliah datang. Anab kemudian berkuliah di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta jurusan Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FIK). Namun menurut Anab, kegiatan perkuliahannya hanyalah formalitas belaka, ia lebih tertarik dengan kegiatan ekstra kampus. Kala itu, di kampus ia sudah aktif dalam Lembaga Pers Mahasiswa Aspirasi sebagai jurnalis. Ketika semester tiga, ia telah bekerja di sebuah majalah Islam nasional sebagai jurnalis lepas. Lalu, ia juga pernah bekerja sebagai penerjemah dan perangkum koran-koran berbahasa Inggris. Alhasil, penghasilan perbulannya saat itu sudah lebih dari cukup untuk membayar biayakuliahnya per semester.
Sekarang, pria yang mengidolakan Dahlan Iskan ini telah menjabat sebagai founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) sebuah perusahaankonsultan yang bergerak di bidangkehumasandankomunikasibernamaPena Media Utama, yang kemudian berganti nama menjadi Bostonprice Asia yang diresmikan pada tahun 2008. Profesi di bidang konsultan humas dan komunikasi sudah ia tekuni sejak tahun 90-an. Saat itu ia masih bekerja di salah satu perusahaan konsultan.Hingga akhirnya pada tahun 1996, atas dasar minat dan pengalaman, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan mendirikan perusahaan konsultannya sendiri.
Menjadi orang penting dan berpengaruh, tidak lantas membuatnya berhenti menulis. Malahan, profesinya saat ini menjadikan dunia tulis-menulis semakin dekat dengan kesehariannya. Melalui Bostonprice Asia, ia menulis buku-buku korporasi seperti laporan tahunan(annual report), profil perusahaan (company profile),dan rilisan pers (press release). Banyak perusahaan-perusahaan besar yang pernah memakai jasa Bostonprice Asia, seperti; PT Telkom, PT KAI Commuter, PT Pertamina (persero), dan banyak lagi. Bostonprice Asia juga dikenal sering mengadakan pelatihan, seminar, dan kegiatan-kegiatan seputar kehumasan dan komunikasi. Selain itu, Anab Afifi sendiri juga merupakan kolomnis media-media ternama dan aktif menulis di media sosial. “Setiap hari saya menulis,” jelasnya.
Saat ini, selain kesibukannya di Bostonprice Asia dan menulis kolom, Anab Afifi sedang mempersiapkan sekuel dari buku Ayat-Ayat yang Disembelih, berjudul “Tujuh Setan Desa”. Selain itu ia juga mulai mempersiapkan buku autobiografinya. Menurut Anab, menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya, merupakan rutinitas yang ia lakukan setiap hari. Akan tetapi, menurutnya, menulis bukanlah suatu tujuan, melainkan sebuah sarana yang digunakan untuk mecapai target yang lebih besar. Ia berpesan kepada siapapun yang hendak menjadi penulis untuk tidak menyerah dalam usahanya. “Bukan penulis berbakat yang akan berhasil, melainkan penulis yang terlatih,” tutupnya siang itu.

rizki-upn-20161205_101330

Rabu (30/11), bertandang ke kediaman Anab Afifi di Perumahan Nusa Loka, Bumi Serpong Damai, Tangerang. Dari kanan ke kiri, Muhammad Berlian, Anab Afifi, Brian Achmad, Rizki Pratama Putra.

Penulis: Rizki Pratama Putra

Editor  : Muhammad Berlian

Advertisements